Senin, 27 April 2015

Keep Dreaming to Start Great Action



Keep dreaming to start great action~

Kalau kata orang bijak mah “Dunia membutuhkan para pemimpi dan dunia membutuhkan para pelaku (pekerja). Tapi di atas semua, dunia membutuhkan para pemimpi yang bekerja..” Nah aku setuju banget nih sama kata-kata itu. Karena dunia tidak hanya butuh para pemimpi tapi dunia juga butuh orang-orang pekerja untuk mewujudkan mimpi.
Apa sih arti mimpi bagi kalian? Mimpi menurut sebagian orang bagian dari bunga tidur. Tapi bagi ku bermimpi merupakan hal yang indah dan dengan mimpi hidup semakin berwarna. Karena dengan bermimpi kita akan mengenal dunia bahkan sebaliknya dunia akan mengenal kita. Bagaimana dengan kalian sahabat, apakah kalian punya mimpi? Pasti punya dong, karena menurutku mustahil rasanya jika seseorang itu tidak punya mimpi.
Menjadi seorang pemimpi besar itu sungguh luar biasa. Tapi impian tidak akan terwujud tanpa adanya usaha. Jika kita berani untuk bermimpi besar, kita juga harus berani berusaha besar untuk mewujudkannya. Mimpi akan selamanya menjadi mimpi ketika mimpi itu hanya ada dalam pikiran tanpa ada usaha bagaimana mewujudkannya. Maka beranilah untuk mewujudkan mimpi tersebut menjadi sesuatu yang nyata yaitu dengan action dan doa. Karena action dan doa bagian dari komposisi kesuksesan. Tak ada kesukesan tanpa action dan action pun tak akan berarti tanpa ada doa. Dan jangan pernah takut untuk gagal. Karena kegagalan merupakan proses menuju suatu kesuksesan.
And then  LKMA flight to Singapore and Brunei Darusalam adalah mimpi besar kami Arsy Genefa. Keyakinanlah yang membuat kami berani  bermimpi besar.  Sehingga kami akan meraih mimpi besar dengan usaha yang besar pula. Karena  mimpi dan usaha harus seimbang agar mimpi itu akan benar-benar tercapai.
GO BIG OR GO HOME, itulah celetukan kami jika sang ketua berkata LKMA ARSY GENEFA? Sebuah kata singkat tapi mengandung arti yang begitu bermakna. Berjuang untuk meraih mimpi besar atau pulang menjadi seorang pecundang itulah makna dari #Go Big Go Home. Hidup adalah pilihan, dan semua itu akan kembali pada kita semua. Ingin ikut berjuang meraih mimpi besar atau menjadi seorang pecundang. Dan kami memilih “BERJUANG BERSAMA MERAIH MIMPI BESAR”

Amsy Eka Hasmarita
Bangunjiwo~

Sabtu, 22 Maret 2014

DEMOKRASI MAHAL DAN SIA-SIA


Tahun 2014 adalah  tahun dimana akan di adakannya pesta demokrasi. Tak henti-hentinya pesta demokrasi berlangsung di Indonesia. Untuk melangsungkan sebuah pesta demokrasi, membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan anggaran pembangunan dan belanja nasional maunpun daerah harus terkuras untuk membiayai pesta ini.
Menurut Laporan Wartawan Tribunnews, Eri Komar Sinaga. Sebanyak Rp 16 Triliun akan digunakan untuk keperluan penyelenggaraan Pemilu 2014. Dana tersebut dua kali lipat jumlahnya dari Pemilu 2009 yang berjumlah Rp 8,5 Triliun. Ini benar-benar pemborosan. Padahal, pemilu 2014 tidak akan menghasilkan apapun, kecuali nantinya anggota legislatif dengan wajah-wajah lama.
 Jumlah biaya demokrasi itu tidak sebanding dengan biaya kesejahteraan rakyat yang dialokasikan dalam APBN. Dengan biaya pesta demokrasi yang sangat besar itu, benarkah mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas dan mampu mensejahterakan rakyat? Nampaknya kita masih harus menerima kenyataan, dari biaya demokrasi yang sangat mahal itu, tidak menjamin akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang dihasilkan dari proses demokrasi itu ternyata justru menguras uang rakyat dengan melakukan tindak pidana korupsi. Hal ini dilakukan karena para pemimpin ini sebelum menduduki kursinya sudah mengeluarkan ’biaya investasi’ yang cukup besar. Ketika mereka menduduki kursi yang diinginkan, maka saatnya investasi yang ditanam kini dituai dari dana APBN maupun APBD.Demokrasi bukan hanya menguras uang rakyat dengan membutuhkan biaya yang mahal tapi juga menghasilkan sistem yang rusak.
            Alangkah ruginya negri  ini, jika biaya besar yang telah dikorbankan untuk membiayai  pesta demokrasi yang ternyata tidak akan menjamin kualitas pemimpin yang tebaik. Maka kegiatan ini hanya sia-sia belaka. Demokrasi jelas-jelas telah menyita pengorbanan rakyat sementara rakyat tidak memperoleh kesejahteraan tapi justru menuai kemiskinan.